my life as an ordinary girl who learn to be a real broadcaster…^_^
Luna VS Infotainment
12.22.09 | 1 Comment
Category: Pemikiran Saya

Saya gemas sekali melihat berita-berita di media tentang mbak Luna Maya. Itu berita ga ada abisnya. Saya sendiri yang bekerja di media merasa kok pekerja infotainment ini makin lama makin “liar”. Tapi saya juga ga bisa menyalahkan sepenuhnya. Hanya saja saya juga mengerti mengapa Luna Maya bisa semarah itu ^_^

Saya mengikuti beritanya dari beberapa media baik cetak maupun online. dari detik.com saya jadi tahu kronologi kejadian yang bikin Luna Maya marah-marah. Ceritanya tuh Luna maya lagi nonton film Sang Pemimpi. Dan saat itu ia sedang bersama anaknya Ariel dan juga ayahnya Ariel. Saat itu ia juga sadar bakal jadi santapan infotainment, akhirnya dengan sikap profesionalnya dia akan melayani wawancara setelah menidurkan Allea di mobil. Sayangnya pekerja infotainment sepertinya tidak sabar bahkan terus mengejar Luna Maya hingga akhirnya kepala Allea yang tertidur terbentur sebuah kamera milik reporter infotainment. ga beberapa lama muncul komen dari twitter Luna Maya yang memaki infotainment lebih rendah dari pelacur ^_^

Saat berita ini muncul kalimat pertama yang muncul di benak saya adalah infotainment emang keterlaluan. Dan itu cukup menambah kegerahan saya soal tayangan infotainment yang makin ga mutu alias ngegosip. Klo berbicara media, saya mempertanyakan apakah infotainment ini layak disebut pencari berita atau bahasa kerennya wartawan. Jika memang tayangan infotainment adalah sebuah paket informasi kenapa hampir semua info yang ditayangkan tidak berdasarkan fakta, tapi berdasarkan desas desus yang dibesar-besarkan dan dibumbui, serta dibawakan dengan gaya ngejudge dan sedikit sindiran oleh sang presenter. Poin penting yang saya pegang sebagai jurnalis adalah kenetralan dan meliput berdasarkan fakta bukan opini dan kesimpulan pribadi. Tentunya setiap jurnalis juga pasti memegang teguh yang namanya etika jurnalistik. Seingat saya waktu training dengan Dewan Pers dulu, pekerja infotainment itu sendiri masih dikaji dan dipertimbangkan apakah mereka termasuk pers atau tidak. Dengan membawa microphone dan kamera dan mencari berita kemudian ditayangkan, tidak lantas  bisa disebut jurnalis. Saya juga sependapat dengan pernyataan seorang ahli yang dimuat di tempointeraktif.com.

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang Triyono Lukmantoro menyatakan para pekerja tayangan infotainment tidak layak disebut sebagai wartawan atau jurnalis. Selama ini pekerja infotainment hanya menonjolkan gosip-gosip tanpa didasari fakta sesungguhnya,” kata Triyono di Semarang, Senin (21/12). Bahkan, kata Triyono, selama ini pekerja media infotainment hanya cari-cari perkaradari para selebritis. Triyono memperkirakan selama ini para pekerja infotainment tidak paham dengan kode etik jurnalistik yang menjadi pegangan para wartawan dalam menjalankan tugasnya. Akibatnya, produk dari pemberitaan infotainment sangat buruk.

Mengejar berita penting seorang publik figur juga merupakan sebuah nilai berita. Tetapi dilihat juga nilai berita selain publik figur itu tadi. Apa yang dia buat dan bukan apa yang menarik dari kehidupan pribadinya. Klo hanya berita Luna Maya nonton film Sang Pemimpi membawa ayah dan anak Ariel sih klo diberitain secara jurnalistik mah ga ada nilai berita lain yang bermutu dan berita itu ga ada istimewanya. Memberi pengetahuan pun tidak, yang ada hanya kesenangan para produser infotainment karena rating yang bagus juga memenuhi hasrat para penggosip yang ga punya kerjaan yang berguna. tapi ga ada penghargaan untuk si objek beritanya, malah kasihan didesak mulu demi mendapatkan sepotong berita.

Tetapi sebagai seorang jurnalis saya juga kasihan dengan tekanan yang diterima para kru infotainment ini sendiri. Saking tertekannya dia terpaksa menyingkirkan rasa kemanusiaannya. Saya pernah mewawancarai beberapa artis. Saat itu saya tahu mereka capek dan setengah hati tetapi saya juga harus meliput. Namun saya rela menunggu beberapa menit supaya mood mereka baik kembali. untung artisnya ngerti . Toh yang saya liput bukan urusan pribadi mereka.

Kali ini saya juga setuju sama pernyataannya Pandji Pragiwaksono di twitternya yang bilang “seniman itu lebih baik dilihat dari karyanya atau apa yang dia hasilkan bukan kehidupan pribadinya”

Pernyataan yang bilang artis tanpa infotainment ga bakal bisa apa-apa , sepertinya sombong sekali. Okelah media itu powerful tapi tidak absolut. Tugas media itu mengawasi, menginformasikan sebuah peristiwa penting yang nantinya memunculkan opini publik. Berita yang ditayangkan pastinya yang memfasilitasi kepentingan orang banyak. Klo cuma memberitakan gosip artis, keburukan artis sih, buat saya ga penting sama sekali bahkan senang pun tidak. Apakah dengan memberitakan gosip semua orang yang sedang susah ekonomi sosial dan politik bisa kenyang seketika atau senang? Belum tentu.

Lebih lucunya lagi kasus ini berbuntut pelaporan kepihak berwajib oleh infotainment yang menyeret institusi PWI Jaya. Laporannya dunk berdasarkan UU ITE. Menurut pasal 27 ayat (3) UU ITE, setiap orang yang mencemarkan nama baik melalui media elektronik diancam hukuman penjara maksimal 6 tahun. Padahal pasal ini selama ini dianggap oleh jurnalis berpotensi memberangus kebebasan berekspresi. Nah lho ngaku jurnalis kok malah menggunakan sesuatu yang ditentang jurnalis? ^_^ Lagipula UU ITE saat ini masih belum tersosialisasi dengan baik bahkan menimbulkan multi tafsir.

Pasal tersebut berisi tentang pencemaran nama baik. Luna Maya mencemarkan nama baik infotainment. Sekarang apakah infotainment itu sebuah institusi atau nama seseorang?mengutip dari blog MT Wilson S.Kom M.Kom , saya sedikit mencari arti infotainment…

Sebenarnya, kata infotainment sudah mengalami pergesaran arti. Infotainment adalah kata yang terbuat dari dua kata: information dan entertainment. Aslinya, infotainment adalah berita-berita ringan dari dunia entertainment. Aslinya, infotainment itu berita-berita bahwa si artis A berhasil merebut perhatian dunia dengan suaranya yang mempesona. Aslinya, infotainment itu berita-berita bahwasi artis B berhasil menembus rekor penjualan album hingga mencapai 1 juta kopi. Aslinya, infotainment itu berita-berita bahwa si artis C sudah berhasil menembus pasar internasional dan kini lagi konser di luar negeri dengan penontonnya bule-bule yang jingkrak-jingkrak dengar lagunya. Sekarang ini, infotainment itu isinya kalau gak gossip, membuka aib, atau berita-berita gak penting, macam ultah artis si A lah, si B kucingnya ilang lah.

Jelaslah Luna Maya tidak bisa dituntut karena dia tidak mencemarkan nama baik secara personal. Untuk hal ini saya setuju dengan pendapat 2 orang ahli yang dimuat di situs tempointeraktif. com.

Pemerhati dunia maya yang dijuluki ‘presiden blogger’ Enda Nasution menyatakan perlu adanya revisi terhadap undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik. Menurut Enda, persoalan Luna dengan infotainment, seharusnya bukan dibawa ke ranah hukum pidana melainkan perdata. “Bila ada yang merasa nama baiknya dicemarkan, lakukan gugatan ganti rugi (denda) bukannya berakhir di penjara,”. Ketentuan pasal seperti ini sudah di berlakukan di negara-negara di Eropa. “Bangsa kita perlu belajar banyak  dengan negara Eropa mengenai perangkat hukum dunia maya.

Sementara pakar informasi teknologi Onno W. Purbo mengemukakan, pasal tersebut dinilai berlebihan. “Perbedaan hukumannya terlalu jauh dengan dunia nyata, dendanya pun begitu besar,”. Dia mencontohkan kasus yang terjadi dengan Prita Mulyasari begitu sulit untuk dibuktikan

Setelah banyak pro dan kontra juga dukungan buat Luna maya dari perorangan sampe AJI, tiba-tiba PWI Jaya menyatakan akan mencabut laporan pengaduan terhadap Luna Maya. What?  Ini beritanya dari republikaonline.com.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya mempertimbangkan untuk mencabut gugatan pidana terhadap artis Luna Maya. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua PWI Jaya Kamsul Hasan. Kamsul juga menegaskan, sengketa yang terjadi dengan pihak Luna Maya tidak ada kaitannya dengan PWI Jaya. Dia mengatakan, proses pelaporan Luna Maya ke Polda Metro Jaya yang dilakukan pekan lalu adalah laporan atas individu pekerja infotainment. Kamsul juga menyatakan, sejauh ini pihak PWI Jaya masih tetap sejalan untuk tetap menolak UU ITE.

Baiklah kalau sudah begini siapa yang melindungi infotainment? Saya rasa memang sudah saatnya dibuat peraturan atau SOP tentang infotainment itu sendiri. Diperjelaslah status mereka. Fokuskanlah pada kru operasionalnya bukan pada pemilik kepentingan yang lebih besar. Biar bagaimanapun mereka juga manusia yang butuh penghasilan. Buatlah infotainment itu benar-benar menyajikan berita ringan yang inspiratif. Klo gosip sebatas itu positif sih ga masalah. Tapi ya tadi itu jangan sampe melanggar privilege seseorang. saya berharap infotainment dapat menjadi suatu tayangan yang mampu mencerdaskan penontonnya. Mungkin para petinggi-petinggi staisun TV atau para produser itu bisa melihat suara hati warga dengan melihat opini mereka di twitter atau facebook. Kalo memang hal ini sulit dilakukan, yah seperti kata Butet Kartaredjasa ” Biar penonton yang memilih”. Yup semoga penonton dapat memilah acara yang baik ^_^

1 Comment so far
Leave a comment

By the riza de kasela on 12.24.09 2:46 pm

Mestinya para pelacur berterima kasih kepada Luna Maya karena derajatnya telah diangkat lebih tinggi daripada wartawan
Ya gak?




Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)