| Nikah Beda Agama? Why Not! |
| 04.22.10 | 5 Comments |
Category: Pemikiran Saya
Saya menulis ini bukan karena saya mo cari masalah (lagi!) tapi saya terinspirasi dari sebuah artikel di http://islamlib.com/id alias website milik Jaringan Islam Liberal. Artikel ini uda lama (tahun 2002) tapi cukup menjawab keraguan saya dan memperkuat opini saya bahwa pernikahan beda agama itu bisa bahagia. ^_^

Saya juga baca artikel itu karena saya sedang menjalani hubungan serius (ciee) dengan seseorang yang berbeda agama. Saya seorang muslim dan pacar saya seorang penganut Katolik.
Artikel ini berupa wawancara antara pengajar pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan alumnus dari Universitas Al-Azhar dan Kairo University Mesir Dr. Zainun Kamal dengan Nong Darol Mahmada dari Kajian Utan Kayu (KUK). Wawancara ini juga disiarkan Radio 68H dan jaringannya di seluruh Indonesia pada 20 Juni 2002. Wawancara ini juga menghadirkan Bimo Nugroho, salah seorang Direktur Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) Jakarta yang mengalami secara langsung pernikahan antaragama. Wow dahsyat banget khan! Makanya saya baca hahaha. Ada beberapa poin penting yang saya dapetin dari artikel ini.

Dr. Zainun Kamal (taken from swaramuslim.net)
Pertama, bagaimana sih pandangan Islam tentang pernikahan beda agama ini?
Menurut Zainun, Dalam hukum agama yang umum ada dua penjelasan: Pertama, secara eksplisit teks Alquran membolehkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan non-muslim. Itu terdapat dalam surat al-Maidah ayat 5. Nah, kalo perempuannya yang muslim dan pihak pria non muslim? Zainun mengatakan bahwa teks Alquran secara eksplisit juga tidak ada yang melarang. Hanya saja, mayoritas ijtihad para ulama, termasuk di Indonesia, tidak membolehkannya meski secara teks tidak ada larangan. Makanya, yang membolehkan memiliki landasannya dan yang melarang juga punya landasan tertentu. Larangan muslimah menikah dengan laki-laki non-Islam itu tidak disebutkan dalam Alquran. Ini merupakan pendapat sebagian ulama.
Membaca penjelasan ini, sebuah senyum terkembang di bibir saya. Saya pikir masalahnya sebenarnya simple tetapi kita hidup di negara pluralis. Begitu banyak cara pandang dan begitu banyak idealisme sehingga banyak pro dan kontra.
Jadi sebenarnya apa sih yang menjadi persoalan terbesar pernikahan beda agama itu? *makin penasaran baca artikelnya.

taken from ahmadnurcholish.wordpress.com
Menurut Zainun, persoalan nikah beda agama ini, lebih pada efek jangka panjangnya. Seperti masalah anak. Tetapi yang perlu diperhatikan dan yang terpenting adalah bagaimana suami-isteri itu mendidik anak secara baik. Karena dalam semua agama mengandung nilai moral yang sama dan bersifat universal. Kita mendidik anak untuk berbuat baik pada orangtuanya. Kita mendidik anak kita supaya jangan berbuat jahat dan berbuat baik pada siapa saja. Itu adalah nilai-nilai universal yang sangat ditekankan semua agama. Jadi kita didik anak kita secara baik kemudian dia pilih agama apa, hal itu terserah anak.
Zainun menjelaskan, salah satu alasan sebagian ulama mengharamkan laki-laki non-muslim menikah dengan wanita muslim karena dikhawatirkan istri atau anak-anaknya menjadi murtad. Tapi kalau kita melihat kebanyakan kasus . Anak-anaknya semua ikut ibunya yang muslim karena yang banyak mendidik anak di rumah adalah ibunya. Karenanya, dalam kasus ini, ijtihad dan pendapat para ulama yang melarang wanita muslim menikah dengan pria non muslim perlu ditinjau ulang.
Saya setuju dengan pendapat ini. Mungkin tidak selamanya pernikahan beda agama itu membawa bencana. Mungkin yang membawa masalah adalah saat seseorang pindah agama demi memuluskan niatnya menikah. Di awal pernikahan ia bisa menjalaninya dengan baik, tetapi panggilan untuk kembali ke agamanya yang lama menjadi dilema tersendiri. Untuk yang beragama Islam jika meninggalkan keimanannya disebut murtad. Kalau pindah agama demi sebuah alasan yang mudah mungkin bisa diperdebatkan. Dan ini juga memunculkan perasaan bersalah dan takut akan dosa. Tetapi menurut saya pribadi, pindah agama karena seseorang itu mendapatkan hidayah atau panggilan nurani tidak bisa disalahkan, selama ia menjalani agama barunya itu dengan serius!
Dalam wawancara ini juga mengajak seorang narasumber yaitu seorang yang memang mengalami pernikahan beda agama. Ia menceritakan jika prosesi pernikahan dan prosedur di catatan sipil berjalan lancar. Mereka menikah dengan dua cara. Menikah dengan cara Katolik di gereja karena di sana ada dispensasi untuk menerima isteri yang tetap Islam, juga pernikahan secara Islam.
Cukup repot juga yah, 2 kali pernikahan. Makanya harus disiapkan dan dipikirkan dengan baik-baik. Kalo punya duit berlebih bisa keluar negeri. Menikah disana dan tinggal dicatatkan di Indonesia. Tetapi kabarnya menikah beda agama bisa dilangsungkan di Indonesia. Saat ini yang membolehkan adalah Bali dan Batam. Saya sendiri sih cari infonya lewat internet, belum nanya langsung hehe. Masih malu.
Dari semua itu, saya juga berkaca pada kenyataan yang saya alami, yaitu orang tua saya juga beda agama. Tepatnya ayah saya Katolik dan ibu saya Muslim. Hebatnya keduanya sangat rukun dan sampe sekarang masih beribadah dengan agamanya masing-masing. Saya sih sengat mendukung hal ini, karena tidak ada satu pihak yang merasa beban jika harus pindah agama hanya karena biar bisa menikah. Buat saya agama itu basic dan sangat personal sekali. Ini menyangkut keimanan seseorang kepada penciptanya. Kalau memang bukan panggilan hidup lebih baik jangan sembarangan pindah agama. Justru perbedaan itu membawa banyak kebahagiaan dan warna warni dalam hidup.
Saya paling suka saat Lebaran tiba. Karena kami sekeluarga merayakannya dengan membeli kue-kue yang banyak, makan bersama dan mengunjungi keluarga mama yang kebanyakan Islam. Sama halnya saat Natal tiba. Kami sekeluarga kembali membeli kue-kue dan minuman untuk menjamu tamu yang datang silaturahmi ke rumah. Tidak terlewatkan makan bersama keluarga dan mengunjungi saudara papa yang kebanyakan non muslim. Belum lagi saat puasa papa dengan sabar membangunkan kami yang akan sahur bahkan membantu memasak! Beliau juga samapi memanggil guru ngaji ke rumah supaya kami bisa baca Alquran. Dan sebagai anak saya mendukungnya dengan menemani beliau ke gereja setiap hari Minggu. Mama pun sering menemani papa dalam aktivitasnya di gereja. Wonderful! Bukankah hal ini menyenangkan? Sebuah suasana yang tidak ternilai oleh apapun yaitu kerukunan antar umat beragama! Yang sampai saat ini hanya sedikit ditemukan!
Secara keseluruhan, pernikahan beda agama ini adalah sebuah hal yang unik mengingat bangsa kita majemuk. Dan memang ada resiko yang tidak kecil dengan keputusan ini. Makanya saya pun harus berlapang dada dan terbuka untuk menerima segala resikonya. Begitu pula dengan pasangan saya. Untuk anak-anak, saya memilih untuk membebaskan mereka memilik agama dan keyakinannya masing-masing.
Menurut saya semua agama itu baik dan mengajarkan hal yang benar. Islam menyarankan agar umatnya menikah dengan memprioritaskan kriteria agama, kecantikan, kekayaan dan keturunan. Nabi menganjurkan memilih agamanya, artinya orang yang bermoral. Agama dalam arti nilai-nilai yang baik. Jadi semua agama itu sebenarnya baik kan. Kenapa harus dipermasalahkan lagi hanya karena perbedaan cara beribadah. Yah semua itu kembali pada kesepakatan pasangan dan keluarga besarnya. Karena klo kita menikah berarti siap menikah juga dengan keluarga pasangan yang memiliki pemikiran dan sudut pandang yang berbeda-beda. Hal inilah yang dikhawatirkan berdampak negatif pada pernikahan beda agama. So, siapkah menjalani pernikahan beda agama? ^_^
Thanks to God … artikel ini saya anggap sebagai sebuah pencerahan. Dan hubungan saya saat ini juga karena campur tangan yang diatas. Thanks to my parents. Best family ever, yang selalu mendukung setiap langkah dan pilihan saya. Thanks to my honey Elgyn yang mau memahami saya dan keras kepala saya hahaha. I hope we’re getting older and wiser together. Love you all. ^_^
5 Comments so farLeave a comment
By alyalicious on 06.12.10 3:41 am
Saya tdk pernah merasa bimbang saat kecil. Ayah saya yg Katholik toleransinya sgt tinggi. Beliau tdk masalah dengan anak2nya yg memang plg dekat dgn Ibu. Pola didik tidak ada yg beda, krn ortu tdk selalu menjadikan agama sbg dasar semua masalah. Intinya saya sllu diajarkan bahwa semua agama itu baik adanya. Kami bebas memilih asalkan itu baik dan bs dipertanggungjawabkan ^_^
By AYU YOSH SUSANTIO on 06.18.10 2:04 am
Thanks artikel ini membuat kami mantap untuk terus bersama
By alyalicious on 06.23.10 9:12 am
terima kasih hehehe … semoga langgeng ya ^_^
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

mba, boleh tau masa kecil mbak sempet merasa bingung ga dgn pola didik beda agama ortu?terombang ambing gt?t.i.a yah