Dear readers ini kaleidoskop lanjutannya nih … selamat membaca ^_^
A. Indonesia / Maret 2009

4 Maret. Juara dunia tinju kelas bulu versi WBA / Chris John / berhasil mempertahankan gelarnya di Houston, Amerika Serikat . Chris berhasil membawa pulang sabuk juara untuk ke-11 kalinya / meski hanya bermain imbang atas rivalnya Rocky Juarez.
5 Maret. Kapal Motor Rimba III bertabrakan dengan kapal tongkang pengangkut pasir di perairan Pulau Damar, perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Dalam peristiwa ini 13 orang hilang sementara 13 lainnya selamat.
Read more..
Saya gemas sekali melihat berita-berita di media tentang mbak Luna Maya. Itu berita ga ada abisnya. Saya sendiri yang bekerja di media merasa kok pekerja infotainment ini makin lama makin “liar”. Tapi saya juga ga bisa menyalahkan sepenuhnya. Hanya saja saya juga mengerti mengapa Luna Maya bisa semarah itu ^_^
Saya mengikuti beritanya dari beberapa media baik cetak maupun online. dari detik.com saya jadi tahu kronologi kejadian yang bikin Luna Maya marah-marah. Ceritanya tuh Luna maya lagi nonton film Sang Pemimpi. Dan saat itu ia sedang bersama anaknya Ariel dan juga ayahnya Ariel. Saat itu ia juga sadar bakal jadi santapan infotainment, akhirnya dengan sikap profesionalnya dia akan melayani wawancara setelah menidurkan Allea di mobil. Sayangnya pekerja infotainment sepertinya tidak sabar bahkan terus mengejar Luna Maya hingga akhirnya kepala Allea yang tertidur terbentur sebuah kamera milik reporter infotainment. ga beberapa lama muncul komen dari twitter Luna Maya yang memaki infotainment lebih rendah dari pelacur ^_^
Saat berita ini muncul kalimat pertama yang muncul di benak saya adalah infotainment emang keterlaluan. Dan itu cukup menambah kegerahan saya soal tayangan infotainment yang makin ga mutu alias ngegosip. Klo berbicara media, saya mempertanyakan apakah infotainment ini layak disebut pencari berita atau bahasa kerennya wartawan. Jika memang tayangan infotainment adalah sebuah paket informasi kenapa hampir semua info yang ditayangkan tidak berdasarkan fakta, tapi berdasarkan desas desus yang dibesar-besarkan dan dibumbui, serta dibawakan dengan gaya ngejudge dan sedikit sindiran oleh sang presenter. Poin penting yang saya pegang sebagai jurnalis adalah kenetralan dan meliput berdasarkan fakta bukan opini dan kesimpulan pribadi. Tentunya setiap jurnalis juga pasti memegang teguh yang namanya etika jurnalistik. Seingat saya waktu training dengan Dewan Pers dulu, pekerja infotainment itu sendiri masih dikaji dan dipertimbangkan apakah mereka termasuk pers atau tidak. Dengan membawa microphone dan kamera dan mencari berita kemudian ditayangkan, tidak lantas bisa disebut jurnalis. Saya juga sependapat dengan pernyataan seorang ahli yang dimuat di tempointeraktif.com.
Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang Triyono Lukmantoro menyatakan para pekerja tayangan infotainment tidak layak disebut sebagai wartawan atau jurnalis. Selama ini pekerja infotainment hanya menonjolkan gosip-gosip tanpa didasari fakta sesungguhnya,” kata Triyono di Semarang, Senin (21/12). Bahkan, kata Triyono, selama ini pekerja media infotainment hanya cari-cari perkaradari para selebritis. Triyono memperkirakan selama ini para pekerja infotainment tidak paham dengan kode etik jurnalistik yang menjadi pegangan para wartawan dalam menjalankan tugasnya. Akibatnya, produk dari pemberitaan infotainment sangat buruk.